Komunikasi & Media

Menjaga Kepercayaan di Era Digital: Perspektif Jojo S. Nugroho tentang Komunikasi Publik

By October 29th, 2026No Comments

Perubahan teknologi membuat organisasi dapat berbicara langsung kepada publik dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut tidak otomatis membuat komunikasi menjadi lebih baik. Informasi bergerak lebih cepat, konteks mudah terpotong, emosi menyebar melalui algoritma, dan kesalahan kecil dapat berkembang menjadi krisis reputasi.

Di tengah situasi itu, tantangan utama komunikasi bukan lagi sekadar mendapatkan perhatian. Organisasi perlu membangun kepercayaan, menjaga konsistensi antara perkataan dan tindakan, serta memahami bahwa publik kini dapat memeriksa, membandingkan, dan merespons setiap pesan secara langsung.

Jojo S. Nugroho melihat perubahan ini dari beberapa sisi sekaligus: sebagai mantan jurnalis, praktisi dan konsultan public relations, pengajar, asesor kompetensi, serta figur yang aktif dalam organisasi profesi. Pengalaman tersebut memberinya perspektif tentang bagaimana media, organisasi, dan publik saling memengaruhi dalam membentuk reputasi.

Dari Ruang Redaksi ke Dunia Public Relations

Sebelum berkarier di bidang public relations, Jojo menjalani profesi sebagai jurnalis selama sekitar enam tahun. Pengalaman di ruang redaksi memberinya pemahaman mengenai nilai berita, kebutuhan jurnalis, proses verifikasi, serta alasan suatu isu dianggap penting bagi publik.

Ketika kemudian beralih ke dunia PR, ia dapat melihat komunikasi dari dua arah. Organisasi memiliki kepentingan untuk menjelaskan kebijakan dan aktivitasnya, sementara media membutuhkan informasi yang relevan, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pengalaman lintas peran ini penting karena media relations bukan semata-mata aktivitas mengirim siaran pers. Praktisi perlu memahami cara kerja media, menghormati independensi redaksi, dan menyusun informasi yang benar-benar memiliki nilai bagi audiens.

Melalui Pengamat Komunikasi UI, Jojo membagikan pandangan tentang public relations, komunikasi krisis, profesi humas, storytelling, perubahan media, serta berbagai isu komunikasi yang muncul dalam kehidupan publik.

Reputasi Bukan Sekadar Citra

Citra dapat dibentuk melalui pesan dan tampilan, tetapi reputasi berkembang dari pengalaman yang berulang. Publik menilai apakah organisasi menjalankan apa yang dikatakannya, bagaimana perusahaan merespons masalah, dan apakah pimpinan bersedia bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan.

Karena itu, public relations seharusnya tidak diposisikan sebagai alat untuk menutupi kelemahan. Komunikasi yang hanya memperindah realitas mungkin menciptakan perhatian sesaat, tetapi sulit mempertahankan kepercayaan dalam jangka panjang.

Dalam pandangan Jojo, integritas merupakan bagian penting dari profesi PR. Praktisi komunikasi bukan hanya bertugas membangun citra, tetapi juga menjaga hubungan publik melalui komunikasi yang jujur dan transparan.

Prinsip tersebut semakin relevan ketika masyarakat dapat mengakses arsip digital, membandingkan pernyataan lama dan baru, serta membagikan pengalaman mereka sendiri. Ketidaksesuaian antara pesan dan tindakan akan lebih cepat ditemukan.

Krisis Bergerak Secepat Percakapan Digital

Pada masa media tradisional, organisasi masih memiliki waktu lebih panjang untuk menyusun tanggapan. Kini, sebuah unggahan dapat memicu percakapan nasional sebelum rapat internal selesai dilakukan.

Kecepatan memang penting, tetapi respons cepat yang tidak akurat dapat menimbulkan masalah baru. Organisasi membutuhkan sistem yang memungkinkan informasi diverifikasi, keputusan dieskalasikan, dan pernyataan disetujui tanpa proses yang terlalu panjang.

Kesiapan komunikasi krisis perlu dibangun sebelum masalah muncul. Hal tersebut mencakup pemetaan risiko, protokol komunikasi, daftar juru bicara, holding statement, simulasi krisis, serta pemantauan media dan media sosial.

Respons juga perlu mempertimbangkan emosi publik. Pernyataan yang terlalu legalistik atau defensif sering gagal menjawab keresahan masyarakat. Bahasa yang empatik bukan berarti mengakui sesuatu yang belum terbukti, tetapi menunjukkan bahwa organisasi memahami dampak situasi terhadap pihak yang terlibat.

Storytelling Tetap Penting, tetapi Harus Bertanggung Jawab

Jojo kerap menekankan pentingnya storytelling dalam public relations. Manusia memahami dunia melalui cerita: tokoh, konflik, pilihan, perubahan, dan makna. Data memberi dasar, sedangkan cerita membantu orang melihat mengapa informasi tersebut relevan.

Namun, storytelling bukan kebebasan untuk memanipulasi fakta. Cerita komunikasi harus tetap memiliki bukti, konteks, dan proporsi yang benar. Dramatisasi berlebihan dapat menghasilkan perhatian, tetapi juga meningkatkan risiko kekecewaan ketika publik menemukan ketidaksesuaian.

Storytelling yang bertanggung jawab menghubungkan kepentingan organisasi dengan kebutuhan audiens. Ia tidak hanya menjelaskan apa yang dilakukan perusahaan, tetapi juga mengapa hal tersebut penting, siapa yang terdampak, serta bagaimana publik dapat memahami perannya.

Etika di Tengah Perebutan Perhatian

Persaingan konten mendorong banyak organisasi menggunakan sensasi, kontroversi, atau kemarahan untuk meningkatkan jangkauan. Strategi semacam itu mungkin menghasilkan interaksi tinggi, tetapi tidak selalu memperkuat reputasi.

Konten yang merendahkan kelompok tertentu, mengeksploitasi isu sensitif, atau sengaja menimbulkan kemarahan dapat memicu krisis yang sebenarnya dapat dicegah. Dalam kondisi tersebut, publik tidak melihat masalah sebagai kesalahan teknis, melainkan sebagai cerminan nilai organisasi.

Karena itu, keputusan kreatif perlu melalui pertimbangan etika dan risiko. Tim komunikasi sebaiknya bertanya: apakah pesan ini menghormati pihak yang dibicarakan? Apakah konteksnya cukup jelas? Apakah perhatian yang diperoleh sebanding dengan risiko terhadap kepercayaan?

Pertanyaan tersebut penting karena viralitas tidak selalu berarti penerimaan. Sebuah merek dapat menjadi sangat dikenal sekaligus kehilangan kredibilitas.

AI Mengubah Proses, Bukan Inti Hubungan

Kecerdasan buatan membantu praktisi komunikasi merangkum informasi, mengidentifikasi pola, menyusun draf, dan memantau percakapan. Teknologi ini dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak menggantikan pertimbangan manusia dalam membaca konteks, emosi, relasi, dan konsekuensi etis.

Risiko muncul ketika organisasi menggunakan otomatisasi tanpa verifikasi. Informasi yang salah dapat diproduksi dalam jumlah besar, gaya komunikasi menjadi seragam, dan data sensitif berpotensi digunakan tanpa pengamanan yang tepat.

Praktisi tetap perlu memeriksa sumber, memahami tujuan pesan, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya. AI dapat menjadi alat, tetapi kepercayaan publik tetap dibangun melalui hubungan manusia, konsistensi, serta kesediaan mendengarkan.

Menghubungkan Kampus dan Industri

Selain berkarya di industri, Jojo mengajar Kajian Public Relations di Sekolah Vokasi Universitas Indonesia. Ia juga terlibat dalam coaching, pelatihan praktisi, asesmen kompetensi BNSP, dan pengujian kompetensi Pranata Humas.

Pertemuan antara kampus dan industri penting karena perubahan profesi terjadi sangat cepat. Mahasiswa membutuhkan pemahaman mengenai praktik nyata, sementara industri memerlukan dasar akademik, riset, dan ruang refleksi agar tidak hanya mengikuti tren.

Ruang kelas juga bukan proses satu arah. Pertanyaan mahasiswa, pengalaman praktisi, dan perbedaan pandangan dapat membuka cara baru dalam melihat persoalan komunikasi. Dialog tersebut membantu profesi PR terus memperbarui standar kompetensinya.

Peran pengajar-praktisi menjadi relevan karena teori dapat diuji melalui kasus nyata, sedangkan pengalaman lapangan dapat dianalisis secara lebih sistematis.

Kompetensi PR Lebih Luas daripada Kemampuan Menulis

Kemampuan menulis tetap penting, tetapi praktisi PR modern memerlukan kompetensi yang lebih luas. Mereka perlu memahami riset, media, perilaku audiens, strategi digital, pengukuran, manajemen isu, komunikasi pimpinan, dan etika profesi.

Praktisi juga harus mampu menjelaskan nilai komunikasi kepada manajemen. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah berita atau impresi, tetapi dari kualitas pesan, perubahan persepsi, kekuatan hubungan pemangku kepentingan, dan kontribusinya terhadap tujuan organisasi.

Di sisi lain, kemampuan mendengarkan semakin penting. Komunikasi yang efektif tidak dimulai dari apa yang ingin dikatakan organisasi, melainkan dari pemahaman terhadap kebutuhan, kekhawatiran, dan harapan publik.

Kepercayaan sebagai Hasil Kerja Jangka Panjang

Perjalanan Jojo dari jurnalisme, konsultasi PR, organisasi profesi, hingga pendidikan menunjukkan bahwa komunikasi memiliki banyak lapisan. Ia melibatkan strategi dan kreativitas, tetapi juga tanggung jawab, kompetensi, serta kesediaan untuk terus belajar.

Di tengah perubahan media dan teknologi, perangkat komunikasi akan terus berkembang. Platform dapat berganti, algoritma dapat berubah, dan AI akan semakin terintegrasi dalam pekerjaan. Namun, inti profesi tetap sama: membantu organisasi membangun hubungan yang dapat dipercaya dengan publiknya.

Kepercayaan tidak dihasilkan oleh satu konferensi pers atau kampanye viral. Ia dibangun melalui informasi yang akurat, tindakan yang konsisten, respons yang bertanggung jawab, dan komunikasi yang memperlakukan publik sebagai mitra dialog—bukan sekadar target pesan.

Reputasi Tidak Dibangun Saat Krisis: Mengapa Strategi Komunikasi Harus Dimulai Lebih AwalKomunikasi & Media

Reputasi Tidak Dibangun Saat Krisis: Mengapa Strategi Komunikasi Harus Dimulai Lebih Awal

Creative StoryOctober 30, 2026
Dari Klaim Menjadi Bukti: Mengapa Komunikasi Keberlanjutan Harus TerukurKomunikasi & Media

Dari Klaim Menjadi Bukti: Mengapa Komunikasi Keberlanjutan Harus Terukur

Creative StoryOctober 29, 2026
Lebih dari Teori: Mengapa Praktisi PR Membutuhkan Pelatihan Berbasis KompetensiKomunikasi & Media

Lebih dari Teori: Mengapa Praktisi PR Membutuhkan Pelatihan Berbasis Kompetensi

Creative StoryOctober 29, 2026

LET’S SHARE YOUR STORY

Ajukan publikasi artikel

Lengkapi detail berikut. Kolom bertanda * wajib diisi.

Pengiriman formulir belum merupakan pembayaran atau persetujuan publikasi.